
Peringatan Hari Guru tahun ini dirayakan dengan penuh hikmat di berbagai daerah, tidak ketinggalan juga di daerah ku, daerah yang jauh dari hingar bingarnya ibu kota. Namun dibalik kehikmatan itu, mungkin baru sebagian teman-teman sejawat yang tahu tentang apa dan bagaimana nasib UNAS saat ini dan saat mendatang setelah digugat melalui proses citizen law suit. Dan hasilnya MA mengabulkan gugatan tersebut dan bahkan MA juga menolak kasasi pemerintah berkenaan hal ujian nasional itu.
"Dengan ditolaknya kasasi itu, diharapkan, UN tidak lagi menjadi alat penentu kelulusan. Penyelenggaraan ujian akhir dan penentuan kelulusan sudah seharusnya dikembalikan kepada guru dan satuan pendidikan (sekolah), demikian keinginan sebagian pengamat dan pemerhati pendidikan di negeri ini, meskipun juga ada yang menyambut dingin keputusan ini.
Kepastian ditolaknya permohonan kasasi pemerintah ini dituangkan di dalam Putusan MA tertanggal 14 September 2009 bernomor register 2596 K/PDT/2008 ,seperti dilansir di situs resmi MA. Perkara hukum mengenai UN ini muncul ...
sudah cukup lama yaitu sejak tahun 2006 silam menyusul gugatan warga negara yang diajukan 58 guru. Ketika itu PN Jakarta Pusat mengabulkannya dengan dikuatkan putusan banding dan kasasi.
Terlepas pro dan kontra terhadap keputusan ini, tentunya kita harus tetap memberikan suatu penghargaan positif. Tinggal bagaimana kita, kemudian menyikapinya secara arif dan bijaksana tanpa harus mengorbankan banyak hal.
Saat keputusan ini akan dilaksanakan, sudah terbayang oleh kita beberapa kemungkinan persoalan yang sudah siap menghadang, sebut saja keberanian suatu sekolah secara tegas menyatakan tidak lulus siswanya karena betul-betul yang bersangkutan belum berhak menyandang lulus. Karena selama ini masih ada sebagian sekolah yang kelulusannya berlindung dibalik hasil UNAS. Belum lagi persoalan biaya. Karena dengan keputusan ini ada kemungkinan - kemungkinan diulangnya UNAS bagi yang tidak lulus.
Persoalan mendesak yang harus kita hadapi saat ini adalah bagaimana mempersiapkan mereka (para siswa) menghadapi ujian nasional yang rencananya akan dimajukan pada bulan Maret 2010 (untuk SMA).
"Ujian Nasional penting. Tanpa Ujian Nasional kualitas tidak bisa diukur secara nasional, hanya lokal saja," demikian ujar Mungin Edi Wibowo anggota BSNP.
IsNa
Selengkapnya...
Wednesday, 25 November 2009
CITIZEN LAW SUIT UJIAN NASIONAL
Tuesday, 3 November 2009
Bijak Merawat Alam

Begitu banyak sumber perusakan lingkungan yang saat ini kemudian membuat kita berkerut kening. Betapa banyaknya! Dan apa yang dapat kita lakukan ? Stop menggunakan mobil, menutup penambangan, menghentikan penebangan pohon juga peternakan atau yang lainnya lagi? Rasanya tak mungkin dan yakin itu tidak akan dilakukan.
Penyelamatan lingkungan. Ya...program penyelamatan lingkungan sendiri lebih mengacu pada bagaimana manusia diarahkan untuk bijak merawat alam . Maka mulailah kini gencar terdengar gerakan penyelamatan lingkungan dengan melahirkan berbagai terobosan baru. ...Timbal dalam bensin misalnya sudah dikurangi. bahkan kini masyarakat tengah diarahkan untuk secara bertahap mengganti bensin dengan menggunakan bio fuel karena emisi yang dikeluarkan lebih kecil.
Untuk meminimalkan kerusakan bumi,antara lain dengan membuat cagar biosfer, seperti cagar alam. Di Indonesia gerakan ini sudah begitu banyak. Lihat pulao komodo, Taman Nasional Tanjung Puting, Gunung Leuser, dll.
Bagi bangsa Indonesia, semangat ini mestilah harus benar-benar kita pupuk dan harus dapat diwujudkan, mengingat keragaman hayati Indonesia merupakan keragaman yang nomor wahid di dunia. Kita memiliki biota yang sangat variatif, dominan dan bahkan kita juga memiliki spesies endemik. Oleh karenanya banyak negara yang berharap besar dengan Indonesia, agar kita mampu menjaga kestabilan lingkungan hidup dunia. Semua rencana penyelamatan serta kepedulian terhadap lingkungan yang sehat, alami dan terawat juga mesti dilakukan secara konsisten, meluas dan berkesinambungan.
Tak ada kata terlambat dalam penyelamatan lingkungan yang merupakan wilayah hidup kita sendiri. " Mulailah dari hal sederhana dan kecil sekalipun, dan mulai juga hari ini"
pembiasaan bagaimana memperlakukan terhadap sampah yang benar oleh masyarakat misalnya adalah contoh sederhana itu.
...qyta...
Ummi no66/XXI/Oktober 2009
Selengkapnya...
Saturday, 17 October 2009
Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar dengan Lesson Study
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. A. Pendahuluan (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu: 1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. 2. Materi pelajaran yang penting. 3. Studi tentang siswa secara cermat. 4. Observasi pembelajaran secara langsung. Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas. Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: 1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study. 2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study. 3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons. 4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa. 5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa 6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada. 1. Tahapan Perencanaan (Plan) 2. Tahapan Pelaksanaan (Do) 1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama. 2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study. 3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa. 4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama. 5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru. 6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran. 7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP. 3. Tahapan Refleksi (Check) 4. Tahapan Tindak Lanjut (Act) 1. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/ 2.Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project.online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm 3.Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm 4.Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html 5.Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat 6.Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil belajar yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan Lesson Study untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
Adapun manfaat yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: ...
(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya,
Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari:
(a) perencanaan (plan);
(b) pelaksanaan (do);
(c)refleksi (check); dan
(d)tindak lanjut (act).
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.
Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.
Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu Lesson Study dan bagaimana tahapan-tahapan dalam Lesson Study, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan Lesson Study lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.
B. Hakikat Lesson Study
Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.
Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:
“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.
Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk :
Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.
Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.
(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.
Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.
Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.
C. Tahapan-Tahapan Lesson Study
Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu :
(1) Perencanaan (Plan);
(2) Pelaksanaan (Do) dan
(3) Refleksi (See).
Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:
Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.
Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.
Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.
Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.
Rujukan:
Friday, 9 October 2009
Hijaukan Bumi ku!

Abad 20 merupakan abad yang mengubah drastis tata kehidupan manusia, mulai dari perilakunya, teknologi dan ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dan yang saat ini selalu jadi bahan pembicaraan adalah masalah lingkungan di sekitar kita yang seiring dengan berjalannya waktu mengalami kerusakan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa pada abad ini manusia seakan-akan acuh terhadap semua permasalahan yang terjadi di sekitarnya.
Pada abad ini pula manusia cenderung ....
bersikap individualis dan selalu memuaskan dirinya sendiri tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya ataupun tanpa memikirkan dampak yang nantinya timbul akibat ulah manusia. Dalam sudut pandang lingkungan, kita pun bisa melihat perilaku manusia yang sudah tidak peduli terhadap alam dan lingkungan. Mereka pun tidak segan-segan untuk menunjukkan sikapnya bahwa mereka benar-benar tidak peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Seakan-akan mereka bersikap bahwa alam memang diciptakan untuk memanjakan dirinya tanpa memikirkan kelestarian lingkungan.
Terhadap alam mereka lebih banyak bersikap merusaknya daripada melestarikannya, mereka sudah terbiasa merokok di tempat umum tanpa batas-batasan tertentu, meludah di sembarang tempat, membuang sampah tidak pada tempatnya, manusia juga melakukan pemborosan energi tanpa memikirkan dampaknya sedikitpun terhadap lingkungan. Manusia juga lebih cenderung memanfaatkan kekayaan alam untuk hal-hal yang kurang terpuji atau bisa dikatakan sikap yang negatif dalam pemanfaatan lingkungan. Beberapa contoh itu pula yang merupakan indikasi penyebab pemanasan global yang saat ini terjadi di bumi kita.
Pemanasan global merupakan suatu permasalahan yang serius dengan keadaan alam yang mengalami kerusakan, entah itu kerusakan tatanan alam maupun kerusakan keadaan alam yang sekarang ini sedang terjadi. Hal seperti inilah (pemanasan global) yang mengakibatkan kondisi bumi ini labil, pemanasan global juga seakan-akan tidak mempedulikan kondisi bumi yang semakin hari semakin menurun kondisinya sebagai tempat hidup makhluk hidup. Keadaan seperti inipun lama-kelamaan/jangka panjang dapat merusak ekosistem di alam ini sehingga kelak dampak pemanasan global dapat mengakibatkan tatanan alam di dunia ini tidak seimbang dan bahkan dapat mengakibatkan bumi ini tidak lagi dalam kondisi labil melainkan tinggal kenangan sebagai tempat yang pernah menjadi tempat tinggal makhluk hidup.
Pemanasan global yang saat ini terjadi tentunya ada penyebabanya yang tak lain adalah ulah manusia sendiri, fenomena ini juga tentunya menimbulkan respon dari setiap orang. Tetapi meskipun begitu di Indonesia sendiri banyak masyarakatnya yang kurang begitu mengenal pemanasan global padahal setiap harinya mereka mengalami fenomena pemanasan global ini. Masyarakat Indonesia pun lebih mengidentifikasi perubahan alam yang terjadi begitu cepat adalah sesuatu yang biasa dan mereka berpikir hal itu bukan dampak dari aktivitas pemanasan global. Padahal kalau kita melihat berita tahun lalu, kita patut “bangga” karena Indonesia adalah tuan rumah konferensi Internasional pertama yang membahas pemanasan global di dunia ini. Saat itu kebetulan tuan rumahnya adalah Pulau Dewata (Bali). Tetapi hal ini seakan-akan hanya sebagai konferensi saja dan kita tidak dapat melihat dan merasakan hasil kegiatan itu untuk memperbaiki bumi kita yang tercinta ini.
Pemerintah di Indonesia khususnya juga seakan-akan acuh terhadap permasalahan ini. Pemerintah di Negara ini bergerak sangat lambat dalam mengatasi fenomena ini, padahal kalau saja hal ini dibiarkan maka yang akan terjadi adalah kerusakan bumi ini. Fenomena pemanasan global ini memang bukan tugas dari pemerintah saja tapi adalah kepentingan bersama namun meskipun begitu pemerintah adalah pegangan masyarakat banyak jadi mereka seharusnya mulai sekarang harus mengkampanyekan terhadap masyarakat tentang bahaya pemanasan global yang saat ini melanda bumi ini. Kampanye untuk memerangi pemanasan global ini harus diselenggarakan dengan baik dan disasarkan kepada masyarakat Indonesia yang awam pengetahuan tentang pemanasan global ini. Pemerintah harus gencar mengkampanyekan tentang bahayanya pemanasan global seperti gencarnya pemerintah dalam mengkampanyekan bahayanya virus HIV/AIDS dan juga bahaya narkoba.
Pemanasan global sendiri banyak sekali bentuknya dan penyebabnya, selain itu banyak juga gejala alam yang merupakan dampak dari pemanasan global. Dalam kehidupan sehari-hari kita merasakan bahwa iklim saat ini berbeda dengan iklim beberapa tahun silam, ketika siang hari kita merasakan begitu panasnya udara saat itu, tetapi jika sore hari langit akan mendung dan bumi ini akan diguyur hujan. Lalu ketika hari beranjak malam udara pun tidak mengalami perubahan cuaca, malam hari seakan-akan seperti siang hari. Udaranya panas dan gerah. Jika kita melihat berita Internasional pun kita dapat melihat dampak pemanasan global itu sendiri, musim dingin di negara-negara yang memiliki empat musim lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya, di samping itu musim panas di sana datang lebih cepat dari yang diperkirakan dan yang seharusnya musim itu berjalan selama 4 bulan, tapi saat ini musim panas hanya berjalan 3,5 bulan saja. Pemanasan global juga mengakibatkan aktivitas laut yang juga labil seperti keadaan bumi, konon pada abad ini badai akan sering terjadi dan frekuensinya jauh lebih besar dari yang sebelumnya, ada juga tersiar kabar bahwa saat ini gunung-gunung es di kutub utara maupun selatan setiap harinya selalu mencair, dan menurut ahli aktivitas ini mengakibatkan volume air di laut semakin meninggi, yang lebih parah lagi para ahli memperkirakan kelak beberapa tahun mendatang pesisir pantai akan tenggelam. Semua hal itu merupakan dampak pemanasan global yang dapat mempengaruhi tatanan alam yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik.
Di samping itu, kita tidak dapat memungkiri lagi, bahwa manusia saat ini sangat membutuhkan teknologi yang mutakhir dalam membantu kehidupannya, perkembangan teknologi merupakan salah satu penyumbang terjadinya pemanasan global saat ini, sedikit banyak dari kita adalah pengguna perkembangan teknologi saat ini yang sangat pesat perkembangannya. Kita sering menggunakan kulkas/lemari es dalam kehidupan kita sehari-hari, penyejuk ruangan (AC), dan sekarang ini kita sering menggunakan hair spray dalam aktivitas kita sehari-hari kita.Padahal penelitian yang dilakukan oleh badan lingkungan hidup milik PBB ketiga hal di atas merupakan salah satu indikator penyebab terjadinya pemanasan global. Tetapi jika kita melihat masyarakat Indonesia yang saat ini terlalu acuh terhadap keadaan alam, sepenuhnya mereka belum sadar terhadap aktivitas mereka sehari-hari yang dapat mengakibatkan aktivitas pemanasan global. Tetapi hal itu tidak saja terjadi pada masyarakat Indonesia tetapi seluruh penduduk di dunia ini belum memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan ini.
Selain itu, pemanasan global yang kita jumpai setiap harinya belum juga menyadarkan kita untuk segera berbenah diri dan mengatasi persoalan ini, dan yang membuat kita prihatin masyarakat sekarang ini tidak saja acuh terhadap permasalahan pemanasan global ini tetapi lebih-lebih manusia masih saja menggunakan bahan ataupun aktivitas yang merupakan penyebab terjadinya pemanasan global ini. Selain contoh yang telah disebutkan di atas, ada beberapa contoh kecil yang setiap harinya tidak luput dari aktivitas manusia. Kantong plastik yang sering kita gunakan untuk membungkus barang-barang juga merupakan penyumbang terbesar pemanasan global, selain itu kendaraan bermotor yang kita gunakan sehari-hari juga salah satu penyebab tipisnya lapisan ozon di atmosfer yang tidak lain adalah penyebab pemanasan global ini.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh sebuah lembaga di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa energi yang dibutuhkan untuk membuat 1 bungkus kantong plastik sama dengan energi yang digunakan oleh sebuah mobil untuk melakukan perjalanan sejauh 1,7 kilometer, selain itu bahan plastik dapat terurai secara penuh membutuhkan jangka waktu yang cukup lama yaitu 300 tahun. Tentunya hal itu sangat mencengangkan pikiran kita, berarti setiap harinya kita juga sedikit banyak merusak lapisan ozon di atmosfer. Saat ini dunia belum bisa mengatasi permasalahan ini yaitu alternatif lain untuk menggantikan keberadaan kantong plastik sebagai pembungkus barang. Tersiar kabar saat ini para aktivis lingkungan gencar mengkampanyekan semacam kantong plastik yang berbahan dasar kulit ketela. Selain kantong plastik, kendaraan bermotor juga sangat berpengaruh dalam hal penipisan lapisan ozon, hasil pembuangan kendaraan bermotor sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan. Saat ini juga sudah dilakukan pengembangan untuk menggantikan keberadaan kendaraan bermotor dengan suatu terobosan yang cukup baik yaitu mengembangkan kendaraan bermotor dengan tenaga listrik sebagai penggerak motornya, tetapi hal itu belum terealisasi secara maksimal karena kendaraan listrik tidak tahan lama dan kecepatannya pun jauh di bawah kecepatan kendaraan bermotor. Akan tetapi dengan terobosan baru seperti itu kita cukup berbangga dengannya karena hal itu salah satu upaya untuk mengatasi pemanasan global ini. Walaupun begitu tentunya kedua hal di atas yaitu penggunaan kendaraan bermotor dan kantong plastik untuk membantu kehidupan manusia sangat riskan sekali bagi kita jika harus diupayakan untuk dihilangkan mengingat kedua hal di atas merupakan “teman” kita untuk melangsungkan aktivitas kehidupan kita.
Kedua contoh indikator penyebab terjadinya pemanasan global di atas, tentunya merupakan sebagian kecil bahan-bahan yang terdapat di bumi ini. Selain hal-hal di atas, tentunya masih banyak skali contoh-contoh yang merupakan indikasi penyebab terjadinya pemanasan global. Sebagai manusia yang memilik akal yang sehat, kita seharusnya memiliki kepedulian terhadap keselamatan bumi ini. Untuk menanggulangi permasalahan ini tentunya dibutuhkan usaha-usaha dan kerjasama setiap individu dalam menanggulangi permasalahan serius ini yang mana aktivitas alam seperti ini dapat mengganggu kehidupan manusia di muka bumi.
Tetapi jka kita melihat lebih jauh, manusia di dunia ini seakan-akan berdiam diri dengan fenomena alam seperti ini. Penipisan lapisan ozon di atmosfer bumi tidak menggugah kepedulian dan keinginan manusia untuk menjaga dan merawat keadaan bumi ini yang semakin hari semakin gersang saja. Dalam kenyataannya, kita hanya dapat melihat segelintir orang yang prihatin terhadap keadaan bumi ini yang semakin rusak akibat dari pemanasan global, segelintir orang itu kebanyakan adalah aktivis lingkungan, sebagai manusia awam kita belum pernah memperhatikan dan menyumbangkan kontribusi kita terhadap alam. Meskipun demikian, kita juga tak jarang melihat dan mungkin terlibat tak langsung dalam kampanye anti pemanasan global. Tak sedikit pula orang yang selalu menyerukan anti pemanasan global tetapi masih saja melakukan aktivitas yang merupakan indikator pemanasan global, mereka juga tidak sepenuhnya mengerti makna dan hakikat mereka berkampanye.
Usaha-usaha yang dapat kita lakukan untuk mencegah pemanasan global ini dengan mengenali dahulu pribadi kita masing-masing dan lingkungan di sekitar kita. Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, kita harus berintropeksi diri dan membuat perubahan dalam hidup kita. Dengan usaha seperti itu, nantinya dalam diri kita akan timbul suatu perasaan bersalah dan timbul juga kesadaran untuk menjaga selalu keselamatan bumi ini.
Dalam praktek kehidupan sehari-hari, kita mulai dari hal-hal terkecil untuk memerangi pemanasan global ini, mulai dari usaha untuk memindahkan fungsi plastic ke bahan non plastic. Lalu meminimalisasi penggunaan peralatan rumah tangga seperti lemari es dan penyejuk ruangan (AC). Dapat juga dengan membudayakan anti polusi, seperti mengganti kendaraan bermotor dengan sepeda dan masih banyak lagi usaha-usaha sederhana yang dapat menekan aktivitas pemnasan global ini. Selain itu untk menjaga kelestarian dan keselamatan bumi ini, kita juga dapat menanam pohon-pohon di taman kota, di pinggir jalan yang masih memiliki sedikit lahan dan juga dapat melakukan reboisasi di hutan-hutan yang gundul.
Dalam konteks menyerukan anti pemanasan global, kita setidaknya mengetahui makna seruan kita, tujuan seruan dan target seruan kita. Memang tak mudah merealisasikan hal tersebut, tetapi dengan kerjasama setiap individu kita harus selalu mengusung semangat untuk menyelamatkan bumi yang sangat kita cintai ini. Lalu ketika kita menyerukan hal ini, dalam diri kita harus menanamkan jiwa yang mencintai lingkungan dan menjaga agar bumi yang kita tinggali ini tidak terlalu cepat mengalami kerusakan dan akan selalu terpelihara sepanjang zaman, sehingga anak cucu kita dapat menikmati indahnya alam ini dan juga dapat menghirup udara segar yang terdapat di bumi yang hijau ini. Kita juga harus menyamakan gerak langkah kita sebagai sekelompok manusia yang mengiginkan bumi ini selalu terjaga, selain itu kita juga harus selalu bersemangat untuk mengkampanyekan seruan ” Stop Global Warming and Save Our Earth”.
students.ukdw.ac.id
Selengkapnya...



