Tuesday, 4 May 2010

MENYAMPAIKAN IDE KREATIF MELALUI GAMBAR


KREATIVITAS ANAK(DUA GUNUNG DAN MATAHARI “DOSA ASAL” PENDIDIKAN KITA)
Seperti yang dimuat dalam koran PR hari rabu, 25 Maret 2010, Eko Nur Widiyanto, motivator kreativitas menggambar anak mengatakan “Secara turun temurun, para guru sekolah dasar memilih mengajarkan konsep menggambar dengan cara-cara yang paling mudah dan serba terburu-buru. Akibatnya, murid miskin inovasi dan kering kreativitas. Itulah sebabnya, kenapa objek gambar yang paling populer bagi anak-anak di Indonesia, dari generasi ke generasi adalah dua gunung dan satu matahari.
Mengapa ini terjadi ?
Menurut praktisi pembelajaran kreatif, Luna Setiati, yang mencoba menarik persoalan jauh ke akarnya. Beliau menilai, wabah menggambar dua gunung dan satu matahari itu sebagai pengingkaran tradisi menggambar bercerita yang muncul dari budaya tutur yang umum ada di negara-negara timur seperti Indonesia. Dalam tradisi menggambar seperti ini, amat sempit ruang yang diberikan untuk kreativitas anak.

Lain lagi menurut Urip Purwono, pakar Psikologi Pendidikan Universitas Padjadjaran Bandung. Beliau berpendapat wadah ini muncul karena sistem pendidikan yang mengedepankan konformitas. Pemikiran yang lurus-lurus saja, yang mengikuti aturan, dan yang cenderung seragam, jauh lebih dihargai daripada cara berpikir yang berbeda dan unik. Wadah menggambar dua gunung dan satu matahari tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele.. Karena sejak dini dijejali dengan kecenderungan menjadi seragam. Dalam perkembangan selanjutnya, anak tak akan memiliki cukup keberanian untuk mencipta sesuatu yang baru. Daya analisis dan kemampuannya memecahkan masalah secara unik tidak berkembang dengan baik.
Kemudian, Eko Nur Widiyanto bersuara lebih keras lagi, kalau pola ini terus menerus dipraktikan di ruang kelas, ia yakin, sekolah hanya akan menghasilkan lulusan-lulusan yang biasa-biasa saja, yang menurut pakem tanpa punya kreativitas. Hasilnya nanti, kalau SMA, ya SMA standar. Kalau Sarjana, ya Sarjana standar. Ujung-ujungnya, jadi karyawan saja.
Apa dong solusinya?
Ekspresi anak, itulah yang utama. Yang terpenting dari gambar anak adalah cerita yang hendak mereka sampaikan di balik coretan di kertas. Kemampuan dan keberanian mengemukakan alasan itulah yang mesti dihargai. (disarikan dari koran PR, hasil tulisan Ag.Tri Joko Her Riadi)

Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan guru di sekolah, saat menggali kreativitas anak melalui gambar. Salah satunya yang dilakukan di sekolah kami, SMP Negeri 11 Bandung. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, siswa dapat mengekspresikan dirinya, sehingga guru bisa melihat sejauh mana kreativitas yang dimiliki oleh siswa.
Ekskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) merupakan wadah yang bisa memfasilitasi siswa untuk penggalian kreativitas. Diawali dari gambar, guru menggali gagasan siswa, kemudian mereka diminta untuk bercerita, ada apa dibalik gambar tersebut. Selanjutnya, dicarikan solusi yang harus dilakukan secara nyata.
Dari hasil jejak pendapat, melalui angket yang disebar secara acak pada seluruh siswa yang terlibat dalam kegiatan ekskul KIR, didapatkan bahwa mereka sangat menyukai metoda belajar seperti ini. Mereka bisa berkreasi sesuai mimpi dan keinginannya. Lalu merekapun diajak berpikir bersama, untuk mencarikan solusi nyata dari masalah yang ditemukan saat mereka akan mewujudkan mimpinya.


Selengkapnya...